Kamis, 10 Juli 2014



My Little Best Friend
Oleh :
Nia Wulandari

“willy….. tolongin, sakit nih. Kamu enak udah bias naik sepeda aku kan belum bisa Willy…..”
“Aduh, kamu sih makannya latihan tiap hari dong biar gak jatuh terus”
Aku hanya meringis kesakitan, tanganku memegangi lututku yang berdarah karena jatuh . Willy menolongku berdiri dan mengantarku pulang.

* *******
Itulah aku dan Willy saat dulu masih kecil. Willy selalu bersamaku dan kita selalu bermain bersama setiap hari. Bahkan aku sering menangis kalau Willy pulang. Tapi sekarang semua berubah, beberapa tahun berlalu begitu cepat. Aku dan Willy sekarang sudah duduk di kelas XII. Kami bersekolah di SMA yang sama yaitu SMA Bakti Pertiwi 1 tetapi kami tidak satu kelas.
Jam 4 sore aku pulang dari sekolah, aku celingukan didepan gerbang sekolah.
“Busnya mana sih, kok gak lewat-lewat”
Lalu terdengar suara motor yang kemudian berhenti tepat disampingku.
“Lea…., ngapain lo di sini? Bareng gue aja yuk.”
“beneran nih…?”
“iya…, cepet gih naik..”
Tanpa basa-basi lagi aku naik ke motornya.
“Jangan ngebut-ngebut ya… gue takut jatuh.”
Motor Willy melesat dengan kencang.
“Willy awaaaaaaaaaas…….!”
GUBRAK… motor Willy menabrak trotoar di pinggir jalan sehingga jatuh bersama dengan aku dan Willy. Aku meniup siku dan lututku yang luka terkena trotoar.
“Lea, maaf  ya maaf.”
“Aduh wiily lo gimana sih? Tadi kan gue udah bilang gak usah ngebut. Jatuh kan kita. Lihat nih lutut gue sakit nih.” Kataku sambil menggerutu.
“Yah.. Lea. Gue kan gak sengaja.”
“Udah, cepet, antar gue pulang. Awas lo ya jangan ngebut lagi.”
Kamipun sampai dirumahku.
“Sini masuk dulu, gue obatin lukanya…”
“Iya deh. Sakit banget nih.”
Willy memarkirkan motornya di halaman rumah. Mama membuka pintu dan
“Ya ampun Lea, Willy. Kalian kenapa?”
“Ini nih ma, Willy, tadi ngebut naik motornya. Ya… jadinya jatuh di trotoar.”
“Ya udah, cepet gih di obatin lukanya.”
Di ruang tengah, sambil nonton televisi, aku mengobati luka di lutut dan siku ku, Ternyata luka Willy lebih parah daripada aku. Aku membersihkan lukanya lalu memberinya betadine dan perban.
“Lea, hati-hati, perih nih.”teriak willy.
“Lo gak usah banyak protes deh, daripada gak gue obatin. Mau lukanya didiemin aja?”
“Ya enggak lah”
“Makannya jangan kebanyakan protes”
Setelah aku mengobati luka Willy, aku membiarkannya menonton televisi.
“Willy, makan dulu yuk, tante udahsiapin makan malam.” Kata mama
“Iya tante”

“Makasih ya tante, makasih juga Lea, kalau gitu gue pulang dulu. Lo gak nangis kan kalau gue pulang?”
“apaan sih. Udah sana pulang.”
Dengan langkah yang masih pincang, willy mengendarai motornya.
“Jangan ngebut…. “ teriakku, entah Willy mendengarnya atau tidak.

********
Paginya di sekolah, seperti biasa siswa-siswi memenuhi setiap sisi koridor sekolah. Seperti biasa juga aku melewati koridor itu untuk menuju kelas. Sesampainya dikelas aku duduk di bangku yang setiap hari ada Molli disampingnya.
Molli datang.
“kenapa lo, kusut gitu mukanya?” tanyaku.
“ gak apa kok”
“kenapa tu kaki lo, pakai diperban segala?”
“kemarin gue jatuh di trotoar sama Willy”
Kriiiinnngggg…………….
Bel masuk berdering. Semua menghambur ke kursi masing-masing.bu Alin masuk ke kelas tapi tidak sendiri. Dia masuk bersama seorang cowok. Sepertinya anak baru.
“anak-anak, hari ini kelas kita kedatangan siswa baru dari Lampung, silahkan perkenalkan diri kamu.”
“Nama saya Ardian Dewa wibowo, kalian bias panggil saya Dewa. Terimakasih.”
“Nah, Dewa silahkan memilih tempat duduk yang kamu suka.”
Dewa duduk disebelah Miko.

Dua jam berlalu. Pelajaran Bu Alin berakhir. Dan ini adalah saat istirahat. Semua anak keluar kelas untuk ke kantin, tapi tidak denganaku dan Molli.
“Hai…” sapa seeorang
“Hai Dewa. Kok gak ke kantin?” tanyaku
“males, lagian gue juga gak laper.”
“Oh iya gue Lea, ini temen gue namanya Molli”
“Kalian gak ke kantin juga?”
“Gak, kaki gue masih pincang buat jalan jadi males deh.”
Kami mengobrol banyak dengan Dewa. Lama sekali.

Bel berdering lagi. Dewa kembali ke tempat duduknya. Hari ini Pak Anton –guru fisika- tidak bisa mengajar di kelas karena ada keperluan mendadak. Jadi beliau memberi  kita tugas. Aku sengaja mengerjakan tugas fisika ini bersama Molli karena aku kurang pintar di pelajaran fisika.
Saat jam pelajaran fisika selesai, Pak Anton kembali ke kelas untuk mengumpulkan tugas kami.
Dan akhirnya saat pulang pun tiba.

Aku dan Molli menunggu bus yang biasa aku naiki saat berangkat dan pulang sekolah.
Sampai dirumah, motor Willy sudah terparkir di halaman rumahku. Kulangkahkan kakiku masuk ke rumah.
“Ngapain Will kesini?”
“kayak gak kenalgue aja, yam au main aja, emang gak boleh ya?”
“Boleh…kok”

********

Pagi yang sayu, matahari tak mau berbagi sedikit cahayanya untuk menyinari pagiku. Hmmmm.. jadi malas mau ke sekolah. Dengan langkah gontai, akhirnya kakiku mampu membawaku sampai ke kelas. Tapi kok sepi ya?
“Pak.. pak, kok sekolahnya sepi sih, semuanya pada kemana ya?”
“Lho… neng kagak tau, hari ini libur atuh neng. Neng kagak baca pangumuman ya?”
“Libur…!” Pak tukang kebun itu manggut-manggut.
“Ya udah deh pak makasih ya..” pak tukang kebun itu geleng-geleng kepala. Keheranan.
Aku kembali pulang ke rumah. Seperti kemarin motor Willy sudah ada di halaman rumah.
“Lea…dari mana lo? Ngapain pakai seragam sekolah segala?” Tanya Willy
Aku tak menjawab.
“Kok lo gak kasih tau gue sih.”
“Kasih tau apa sih?” Willy bingung.
“Kasih tau kalau hari ini itu sekolah libur. Gue jadi berangkat sekolah kan tadi.”
“Jadi lo dari sekolah. Hahhahahaha..”
“Jahat lo ngetawain gue.”

“Oh iya, kita jalan-jalan yuk!”
Aku menggeleng.
“Ya udah deh, gue nemenin lo di rumah aja ya. Boleh kan?” aku hanya mengangguk.

Hmmmm…. Willy gak barubah masih sama seperti waktu kecil dulu. Tetap suka main kerumah aku, tetap manis, tetap pintar, tetap pakai kendaraan kerumah aku padahal rumah kita deket –dulu bawa sepseda sekarang bawa motor-.Aku tidak pernah merasa bosan bersama Willy, foto-foto masa kecil kita tertata rapi di dinding rumahku, di ruang tamu, di ruang televisi,di kamarku, bahkan di dapur juga ada. Banyak orang mengira aku adalah pacar Willy, karena foto-foto yang ada dimana-mana tadi.
“Lea laper nih…”
“Ya sana makan aja tinggal ambil juga”
Beberapa lama kemudian….
“Haduh, kenyang banget gue”
“kok lo lama banget sih makannya?”
“Ya iyalah,nasi gorengnya enak banget, terus gue habisin. Makannya gue lama.”
“Haah… lo habisin?” Willy manggut-manggut
“Gue nanti makan apa dong? Aduh lo gimana si Will,?”
“Ya maaf.. gue gak tau”
********

Sejak kejadian nasi goreng itu, Aku danWilly jadi jarang bertemu. Mungkin dia berfikir kalau aku benar-benar marah padanya. Saat Willy melintas di hadapanku.
“Willy……”
“Hmmm… kenapa? “ jawabnya tanpa menengok kearahku.
“Will gue sama sekali gak marah sama  lo, maafin gue, gue cuma bercanda kemarin.”
“Oh…..” jawab Willy singkat
“OK kalau lo gak mau maafin gue, semoga nantinya lo dapat sahabat yang lebih baik dari gue”
Baru beberapa langkah aku melangkahkan kakiku.
“’Lea…”
Aku berhenti melangkah, lalu berjalan kembali.
“Lea….”
Willy berlari ke arahku dan behenti tepat di depanku
“Maafin gue..” kata Willy
“hahahahahahahahahahaha….”
“Kok lo ketewa sih?”
“Lucu aja lihat lo yang minta maf dulu. Biasanya juga gue yang minta maaf sama lo duluan.”
“Sekarang, lo gue traktir nasi goreng di kantin sepuasnya.”
“kebetulan gue laper… hehe”
Akhirnya kembali seperti semula. Friendship will always together.
Malamnya Willy datang kerumahku.
Bukan untuk main tetapi kita mau belajar bersama. Jangan salah willy itu pintar loh. Satu jam sudah kita belajar bersama.
“Gue pulang dulu ya, makasih udah ngajarin gue.” Aku hanya mengangguk dan kembali melanjutkan belajarku.

********

Hari ini sungguh hari yang mendebarkan. Pengumuman hasil Ujian Nasional akan dilaksanakan hari ini. Aku berjalan menuju kelas dan menunggu namaku dipanggil untuk menerima amplop berisi dua kemungkinan ‘lulus’ atau ‘tidak’.
“Alidalea Safira Rusli” panggil wali kelasku.
Aku menarik nafas panjang, semoga saja hasilnya bagus. Aku menerima amplop itu dengan tenang, dan membukanya. Sesungging senyum mengembang di bibirku. Aku lulus.
Aku keluar kelas mencari Willy.
“willy…” panggilku saat aku berjalan ke arahnya.
“gue lulus, gue seneng banget.” Kata Willy dengan ekspres iyang sedikit berlebihan.
Aku teringat kata-kata Wily beberapa hari yang lalu –Gue akan kuliah di Amerika kalau gue lulus nanti-, aku takut dia akan melupakanku, aku takut dia akan meninggalkan aku dan tidak kembali.
“Lea, lo kenapa?” Tanya Willy. Aku tersentak.
“mmm… Lo jadi kuliah di Amerika?” dia mengangguk.
“Lo gak akan lupa sama gue kan, Will?” dia menggeleng.
“gue gak akan lupa sama lo, dan gue janji kalau gue pulang ke Indonesia lo adalah orang pertama yang rumahya gue datangi.” Aku tersenyum lega,.
“Pulang yuk…” kataku

********

Akhirnya saat itu tiba juga. Waktunya Willy berangkat ke Amerika.Willy memang berangkat lebih awal daripada aku. Keluarga Willy dan keluargaku mengantarkan Willy ke bandara. Di perjalanan manuju bandara dan sampai di bandara aku hanya diam.
“Lea, lo kenapa?” air mata mengalir turun dari kelopak mataku.
“Lea jangan nangis, lo tuh gak beda sama Lea kecil ya.  Gue kan udah janji lo orang pertama yang gue temui kalau gue pulang.”
Bandara sudah ada didepan mata, willy bersiap menunngu pesawatnya. Tak berapa lama Willy sudah pergi meninggalkan Indonesia.

********

Selang satu minggu setelah Willy berangkat ke Amerika, kini adalah hari dimana aku akan berangkat ke Jepang. Tidak ada Willy yang mengantarku ke bandara, hanya keluargaku dan orangtua Willy saja. Tibalah saatnya aku harus berangkat. Papa, mama, dan semuanya akan selalu aku rindukan. Semoga semua akan baik-baik aja begitu juga Willy.
Sampailah aku di negeri sakura. Aku bernafas lega, sudah berad di Jepang. Disini sedang musim  gugur, jadi pemandangannya sangat indah –burung kecil berkicauan, bunga sakura berguguran- aku tidak bisa merasakan hal seperti ini di Indonesia. Di Jepang ini aku tinggal dengan kakak sepupuku –kak Zuka- dia sudah tinggal di Jepang selama 3 tahun lebih.
Hari ini adalah hari pertamaku kuliah, banyak juga mahasiswadan mahasiswi dari Indonesia.

********


Dua tahun sudah aku kuliah di Jepang dan dua tahun sudah aku tidak bertemu dengan Willy. Rencananya aku dan kak Zuka akan liburan beberapa bulan di Indonesia. Semoga saja willy juga ke Indonesia, supaya kita bisa bertemu dan bercanda bersama lagi.

Sampailah aku di Indonesia, rasanya jadi beda,kelamaan di Jepang sih. Kami sengaja tidak memberi tahu mama dan papa kalau kia pulang hari ini.
“spada any body home….?”
Mama membukakan pintu.
“Lea, eh zuka juga pulang. Kok gak bilang-bilang sih kalau mau pulang?”
Aku dan kak Zuka hanya tersenyum.

Willy pulang belum ya, sudah gak sabar mau ketemu. Coba dating ke rumah Willy aja deh.
“assalammualaikum…, permisi….!!!” Teriakku dari halaman rumah Willy
“wa’alaikummussalam.., eh Lea udah pulang. Sini masuk”
“iya tante. Tante, Willy udah pulang belum ya?” tanyaku
“Belum Lea, 2 hari lagi Willy baru pulang.”
2 harimenunggu Willy? Not bad.

Dua hari berikutnya….
Aku bersiap menyambut kedatangan Willy. Sekarang Willy gimana ya?
“pizza…!” teriak seseorang dari depanrumah.
Aku beranjak dari dudukku dan berjalan untuk membukakan pintu.
“pizza…!” kata orang itu lagi
“Pizza? Gak ada yang pesan pizza tu mas, salah alamat mungkin.”
“gak kok, ini jalan arjuna no. 6 kan?” aku mengangguk. “Iya, berarti saya gak salah alamat”
“Tunggu sebentar ya mas…”
Aku menuju ke dalam rumah, bertanya kepada mama, papa, kak Zuka, bahkan bi Inah, tapi mereka semua gak ada yang pesan pizza. Aku kembali keluar.
“Maaf mas keluarga saya gak ada yang pesan pizza, semuanya udah saya tanyain.”
“pizza………..!!!!!!!” seseorang itu membuka topi dan kacamatanya.
“Willy…apaan sih pakai pizza pizza segala.” Kataku dengan nada sedikit meninggi.
“Ini semua buat nepatin janji gue, lo adal h orang pertama yang gue datangi kalau gua pulang ke Indonesia. Gue nepatin janji kan.”
Aku hanya tersenyum, ternyaya Willy masih ingat dengan janjinya. Padahal janji itu sudah dua tahun lamanya.
“Nah sekarang, gue mau nemuin papa sama mama gue dulu.” Kata Willy
“Ikut ya…”

Sampai di rumah Willy….
“loh, Willy kok udah ketemu sama Lea.”
“Iya mah, pah.Willy udah janji kalau Willy pulang orang pertama yang Willy temui itu Lea.”

********

Satu minggu sudah aku di Indonesia. Berlibur dengan Willy kesana, kesini, kesana, kesini, kesana lagi kesini lagi haduh capek.
“Gimana di Jepang?” Tanya Willy.
“Seneng, Pokoknya beda banget sama di sini. Lo sendiri seneng gak di sana?”
“Ya senenglah. “
Semua udah dikunjungi, biar nanti gak nyesel kalau udah kembali ke luar negeri.

Saat aku sedang ada di depan rumah Willy keluar mengendarai mobil.
“Will, mau kemana?”
“Eh Lea, maaf ya gue buru-buru nih”
Willy mau kemana sih kok tumben gak ajak-ajak. Atau mungkin Willy udah mau pulang ke Amerika, tapi kok cepet banget baliknya. Ya udah lah tungguin Willy disini aja –di depan rumah-. Beberapa saat kemudianWilly pulang. Siapa tuh cewek?
Willy menghampiriku di depan rumah, aku buru-buru masuk ke kamarku . aku tidak tau siapa cewek itu tapi aku berfikir pasti cewek itu pacarnya Willy. Willy mengejarku sampai ke kamarku.
“Lea, lo kenapa?”
Aku tak menjawab.
Tok….tok….tok… pintu kamarku diketuk, aku membukanya. Willy. Aku menutupnya kembali.
Tok….tok….tok… “Lea buka pintunya dong, lo tuh kenapa, kok tiba-tiba marah gak jelas gini sih?”
Aku membuka kembali pintu kamarku.
“Lo kenapa tiba-tiba marah sama gue?” aku tak menjawabnya.
“Lea, jawab dong.! Lo marah sama gue?” Aku menarik nafas panjang, mencoba mengatur nafasku yang masih tersengal karena menangis.
“OK, gue jelasin.gue gak marah sama lo, tapi gue kecewa sama lo. Gue tau cewek tadi pacar lo kan? Dan kenapa  gue kecewa? Itu karena gue cemburu, gue tuh suka sama lo Will. Tapi lo tu gak pernah peka akan hal itu. Satu lagi yang buat gua kecewa kenapa lo gak pernah cerita kalau di Amerika sana lo tu udah punya pacar. Kenapa lo gak pernah cerita sama gue?”
Willy diam. Aku menarik nafas panjang dari hidungku lalu berkata panjang lebar kepada Willy.
“Udah jelas kan. Ingat ya Will gue gak marah sama lo, gue seneng kok lo dapat pacar. Gue gak mau seperti anak kecil yang sukanya ngerebutin milik orang lain. Dan untuk kali ini gue gak akan nangis kalau lo pergi dari gue.”
“Kok lo ngomong gitu sih, gue gak akan pergi dari lo. Gue akan selalu ada buat lo sebagai sahabat lo. “
Aku menutup pintu kamarku.
“Lea, Lea gue belum selesai ngomong.”
Willy bergegas dari depan kamarku.

Willy
“Jadi selama ini tu lo suka sama gue, maafin gue Lea, tapi gue gak bisa cinta sama lo. Gue Cuma anggap lo itu sahabat gue yang selalu ada buat gue dan selalu bisa bantuin gue dalam kondisi apapun. Gue bangga sama lo Lea. Lo udah berani ungkapin perasaan lo yang sebenarnya ke gue. Sekali  lagi maafin gue Lea.”

********

Sejak saat itu aku dan Willy jarang bertemu. Mungkin aku hanya sebatas melihatnya saat sedang melintas di depan rumahku itu pun kami tidak bertegur sapa sama sekali. Rasanya asing sekali dengan Willy yang sekarang.

Tibalah saat aku harus kembali ke Jepang. Aku dan kak Zuka menunggu taksi yang akan mengatar kami ke bandara.
“Will, gue pamit ya. Gue mau pulang ke Jepang.”
“Kok cepet banget pulangnya.?” Aku hanya tersenyum
“Kalau gitu gue anta rke bandara ya.kan waktu lo berangkat dulu, gue gak nganterin lo.”
“tapi gue sama kak Zuka udah pesan taksi buat nganterin kita.”
“itu gampang, batalin aja.”
 Aku dan kak Zuka di antar Willy ke bandara. Willy tidak langsung pulang, dia menunggu sampai pesawat yang aku dan kak Zuka naiki terbang meninggalkan Indonesia. Aku tidak tau kapan aku akan kembali lagi ke Indonesia. Aku juga tidak tau kapan aku akan bertemu dengan Willy lagi. Yang terpentig, sudah tidak ada lagi rasa gundah karena aku suah mengatakannya kepada willy. Meskipun aku dan Willy hanya akan menjadi ‘little bestfriend’ selamanya.

********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar