My Little Best Friend
Oleh :
Nia Wulandari
“willy…..
tolongin, sakit nih. Kamu enak udah bias naik sepeda aku kan belum bisa
Willy…..”
“Aduh,
kamu sih makannya latihan tiap hari dong biar gak jatuh terus”
Aku
hanya meringis kesakitan, tanganku memegangi lututku yang berdarah karena jatuh
. Willy menolongku berdiri dan mengantarku pulang.
* *******
Itulah
aku dan Willy saat dulu masih kecil. Willy selalu bersamaku dan kita selalu
bermain bersama setiap hari. Bahkan aku sering menangis kalau Willy pulang.
Tapi sekarang semua berubah, beberapa tahun berlalu begitu cepat. Aku dan Willy
sekarang sudah duduk di kelas XII. Kami bersekolah di SMA yang sama yaitu SMA
Bakti Pertiwi 1 tetapi kami tidak satu kelas.
Jam
4 sore aku pulang dari sekolah, aku celingukan didepan gerbang sekolah.
“Busnya
mana sih, kok gak lewat-lewat”
Lalu
terdengar suara motor yang kemudian berhenti tepat disampingku.
“Lea….,
ngapain lo di sini? Bareng gue aja yuk.”
“beneran
nih…?”
“iya…,
cepet gih naik..”
Tanpa
basa-basi lagi aku naik ke motornya.
“Jangan
ngebut-ngebut ya… gue takut jatuh.”
Motor
Willy melesat dengan kencang.
“Willy
awaaaaaaaaaas…….!”
GUBRAK…
motor Willy menabrak trotoar di pinggir jalan sehingga jatuh bersama dengan aku
dan Willy. Aku meniup siku dan lututku yang luka terkena trotoar.
“Lea,
maaf ya maaf.”
“Aduh
wiily lo gimana sih? Tadi kan gue udah bilang gak usah ngebut. Jatuh kan kita.
Lihat nih lutut gue sakit nih.” Kataku sambil menggerutu.
“Yah..
Lea. Gue kan gak sengaja.”
“Udah,
cepet, antar gue pulang. Awas lo ya jangan ngebut lagi.”
Kamipun
sampai dirumahku.
“Sini
masuk dulu, gue obatin lukanya…”
“Iya
deh. Sakit banget nih.”
Willy
memarkirkan motornya di halaman rumah. Mama membuka pintu dan
“Ya
ampun Lea, Willy. Kalian kenapa?”
“Ini
nih ma, Willy, tadi ngebut naik motornya. Ya… jadinya jatuh di trotoar.”
“Ya
udah, cepet gih di obatin lukanya.”
Di
ruang tengah, sambil nonton televisi, aku mengobati luka di lutut dan siku ku,
Ternyata luka Willy lebih parah daripada aku. Aku membersihkan lukanya lalu
memberinya betadine dan perban.
“Lea,
hati-hati, perih nih.”teriak willy.
“Lo
gak usah banyak protes deh, daripada gak gue obatin. Mau lukanya didiemin aja?”
“Ya
enggak lah”
“Makannya
jangan kebanyakan protes”
Setelah
aku mengobati luka Willy, aku membiarkannya menonton televisi.
“Willy,
makan dulu yuk, tante udahsiapin makan malam.” Kata mama
“Iya
tante”
“Makasih
ya tante, makasih juga Lea, kalau gitu gue pulang dulu. Lo gak nangis kan kalau
gue pulang?”
“apaan
sih. Udah sana pulang.”
Dengan
langkah yang masih pincang, willy mengendarai motornya.
“Jangan
ngebut…. “ teriakku, entah Willy mendengarnya atau tidak.
********
Paginya
di sekolah, seperti biasa siswa-siswi memenuhi setiap sisi koridor sekolah.
Seperti biasa juga aku melewati koridor itu untuk menuju kelas. Sesampainya
dikelas aku duduk di bangku yang setiap hari ada Molli disampingnya.
Molli
datang.
“kenapa
lo, kusut gitu mukanya?” tanyaku.
“
gak apa kok”
“kenapa
tu kaki lo, pakai diperban segala?”
“kemarin
gue jatuh di trotoar sama Willy”
Kriiiinnngggg…………….
Bel
masuk berdering. Semua menghambur ke kursi masing-masing.bu Alin masuk ke kelas
tapi tidak sendiri. Dia masuk bersama seorang cowok. Sepertinya anak baru.
“anak-anak,
hari ini kelas kita kedatangan siswa baru dari Lampung, silahkan perkenalkan
diri kamu.”
“Nama
saya Ardian Dewa wibowo, kalian bias panggil saya Dewa. Terimakasih.”
“Nah,
Dewa silahkan memilih tempat duduk yang kamu suka.”
Dewa
duduk disebelah Miko.
Dua
jam berlalu. Pelajaran Bu Alin berakhir. Dan ini adalah saat istirahat. Semua
anak keluar kelas untuk ke kantin, tapi tidak denganaku dan Molli.
“Hai…”
sapa seeorang
“Hai
Dewa. Kok gak ke kantin?” tanyaku
“males,
lagian gue juga gak laper.”
“Oh
iya gue Lea, ini temen gue namanya Molli”
“Kalian
gak ke kantin juga?”
“Gak,
kaki gue masih pincang buat jalan jadi males deh.”
Kami
mengobrol banyak dengan Dewa. Lama sekali.
Bel
berdering lagi. Dewa kembali ke tempat duduknya. Hari ini Pak Anton –guru
fisika- tidak bisa mengajar di kelas karena ada keperluan mendadak. Jadi beliau
memberi kita tugas. Aku sengaja
mengerjakan tugas fisika ini bersama Molli karena aku kurang pintar di
pelajaran fisika.
Saat
jam pelajaran fisika selesai, Pak Anton kembali ke kelas untuk mengumpulkan
tugas kami.
Dan
akhirnya saat pulang pun tiba.
Aku
dan Molli menunggu bus yang biasa aku naiki saat berangkat dan pulang sekolah.
Sampai
dirumah, motor Willy sudah terparkir di halaman rumahku. Kulangkahkan kakiku
masuk ke rumah.
“Ngapain
Will kesini?”
“kayak
gak kenalgue aja, yam au main aja, emang gak boleh ya?”
“Boleh…kok”
********
Pagi
yang sayu, matahari tak mau berbagi sedikit cahayanya untuk menyinari pagiku.
Hmmmm.. jadi malas mau ke sekolah. Dengan langkah gontai, akhirnya kakiku mampu
membawaku sampai ke kelas. Tapi kok sepi ya?
“Pak..
pak, kok sekolahnya sepi sih, semuanya pada kemana ya?”
“Lho…
neng kagak tau, hari ini libur atuh neng. Neng kagak baca pangumuman ya?”
“Libur…!”
Pak tukang kebun itu manggut-manggut.
“Ya
udah deh pak makasih ya..” pak tukang kebun itu geleng-geleng kepala.
Keheranan.
Aku
kembali pulang ke rumah. Seperti kemarin motor Willy sudah ada di halaman
rumah.
“Lea…dari
mana lo? Ngapain pakai seragam sekolah segala?” Tanya Willy
Aku
tak menjawab.
“Kok
lo gak kasih tau gue sih.”
“Kasih
tau apa sih?” Willy bingung.
“Kasih
tau kalau hari ini itu sekolah libur. Gue jadi berangkat sekolah kan tadi.”
“Jadi
lo dari sekolah. Hahhahahaha..”
“Jahat
lo ngetawain gue.”
“Oh
iya, kita jalan-jalan yuk!”
Aku
menggeleng.
“Ya
udah deh, gue nemenin lo di rumah aja ya. Boleh kan?” aku hanya mengangguk.
Hmmmm….
Willy gak barubah masih sama seperti waktu kecil dulu. Tetap suka main kerumah
aku, tetap manis, tetap pintar, tetap pakai kendaraan kerumah aku padahal rumah
kita deket –dulu bawa sepseda sekarang bawa motor-.Aku tidak pernah merasa
bosan bersama Willy, foto-foto masa kecil kita tertata rapi di dinding rumahku,
di ruang tamu, di ruang televisi,di kamarku, bahkan di dapur juga ada. Banyak
orang mengira aku adalah pacar Willy, karena foto-foto yang ada dimana-mana
tadi.
“Lea
laper nih…”
“Ya
sana makan aja tinggal ambil juga”
Beberapa
lama kemudian….
“Haduh,
kenyang banget gue”
“kok
lo lama banget sih makannya?”
“Ya
iyalah,nasi gorengnya enak banget, terus gue habisin. Makannya gue lama.”
“Haah…
lo habisin?” Willy manggut-manggut
“Gue
nanti makan apa dong? Aduh lo gimana si Will,?”
“Ya
maaf.. gue gak tau”
********
Sejak
kejadian nasi goreng itu, Aku danWilly jadi jarang bertemu. Mungkin dia
berfikir kalau aku benar-benar marah padanya. Saat Willy melintas di hadapanku.
“Willy……”
“Hmmm…
kenapa? “ jawabnya tanpa menengok kearahku.
“Will
gue sama sekali gak marah sama lo,
maafin gue, gue cuma bercanda kemarin.”
“Oh…..”
jawab Willy singkat
“OK
kalau lo gak mau maafin gue, semoga nantinya lo dapat sahabat yang lebih baik
dari gue”
Baru
beberapa langkah aku melangkahkan kakiku.
“’Lea…”
Aku
berhenti melangkah, lalu berjalan kembali.
“Lea….”
Willy
berlari ke arahku dan behenti tepat di depanku
“Maafin
gue..” kata Willy
“hahahahahahahahahahaha….”
“Kok
lo ketewa sih?”
“Lucu
aja lihat lo yang minta maf dulu. Biasanya juga gue yang minta maaf sama lo
duluan.”
“Sekarang,
lo gue traktir nasi goreng di kantin sepuasnya.”
“kebetulan
gue laper… hehe”
Akhirnya
kembali seperti semula. Friendship will always together.
Malamnya
Willy datang kerumahku.
Bukan
untuk main tetapi kita mau belajar bersama. Jangan salah willy itu pintar loh.
Satu jam sudah kita belajar bersama.
“Gue
pulang dulu ya, makasih udah ngajarin gue.” Aku hanya mengangguk dan kembali
melanjutkan belajarku.
********
Hari
ini sungguh hari yang mendebarkan. Pengumuman hasil Ujian Nasional akan
dilaksanakan hari ini. Aku berjalan menuju kelas dan menunggu namaku dipanggil
untuk menerima amplop berisi dua kemungkinan ‘lulus’ atau ‘tidak’.
“Alidalea
Safira Rusli” panggil wali kelasku.
Aku
menarik nafas panjang, semoga saja hasilnya bagus. Aku menerima amplop itu
dengan tenang, dan membukanya. Sesungging senyum mengembang di bibirku. Aku
lulus.
Aku
keluar kelas mencari Willy.
“willy…”
panggilku saat aku berjalan ke arahnya.
“gue
lulus, gue seneng banget.” Kata Willy dengan ekspres iyang sedikit berlebihan.
Aku
teringat kata-kata Wily beberapa hari yang lalu –Gue akan kuliah di Amerika
kalau gue lulus nanti-, aku takut dia akan melupakanku, aku takut dia akan
meninggalkan aku dan tidak kembali.
“Lea,
lo kenapa?” Tanya Willy. Aku tersentak.
“mmm…
Lo jadi kuliah di Amerika?” dia mengangguk.
“Lo
gak akan lupa sama gue kan, Will?” dia menggeleng.
“gue
gak akan lupa sama lo, dan gue janji kalau gue pulang ke Indonesia lo adalah
orang pertama yang rumahya gue datangi.” Aku tersenyum lega,.
“Pulang
yuk…” kataku
********
Akhirnya
saat itu tiba juga. Waktunya Willy berangkat ke Amerika.Willy memang berangkat
lebih awal daripada aku. Keluarga Willy dan keluargaku mengantarkan Willy ke
bandara. Di perjalanan manuju bandara dan sampai di bandara aku hanya diam.
“Lea,
lo kenapa?” air mata mengalir turun dari kelopak mataku.
“Lea
jangan nangis, lo tuh gak beda sama Lea kecil ya. Gue kan udah janji lo orang pertama yang gue
temui kalau gue pulang.”
Bandara
sudah ada didepan mata, willy bersiap menunngu pesawatnya. Tak berapa lama
Willy sudah pergi meninggalkan Indonesia.
********
Selang
satu minggu setelah Willy berangkat ke Amerika, kini adalah hari dimana aku
akan berangkat ke Jepang. Tidak ada Willy yang mengantarku ke bandara, hanya
keluargaku dan orangtua Willy saja. Tibalah saatnya aku harus berangkat. Papa,
mama, dan semuanya akan selalu aku rindukan. Semoga semua akan baik-baik aja
begitu juga Willy.
Sampailah
aku di negeri sakura. Aku bernafas lega, sudah berad di Jepang. Disini sedang
musim gugur, jadi pemandangannya sangat
indah –burung kecil berkicauan, bunga sakura berguguran- aku tidak bisa
merasakan hal seperti ini di Indonesia. Di Jepang ini aku tinggal dengan kakak
sepupuku –kak Zuka- dia sudah tinggal di Jepang selama 3 tahun lebih.
Hari
ini adalah hari pertamaku kuliah, banyak juga mahasiswadan mahasiswi dari
Indonesia.
********
Dua
tahun sudah aku kuliah di Jepang dan dua tahun sudah aku tidak bertemu dengan
Willy. Rencananya aku dan kak Zuka akan liburan beberapa bulan di Indonesia.
Semoga saja willy juga ke Indonesia, supaya kita bisa bertemu dan bercanda
bersama lagi.
Sampailah
aku di Indonesia, rasanya jadi beda,kelamaan di Jepang sih. Kami sengaja tidak
memberi tahu mama dan papa kalau kia pulang hari ini.
“spada
any body home….?”
Mama
membukakan pintu.
“Lea,
eh zuka juga pulang. Kok gak bilang-bilang sih kalau mau pulang?”
Aku
dan kak Zuka hanya tersenyum.
Willy
pulang belum ya, sudah gak sabar mau ketemu. Coba dating ke rumah Willy aja
deh.
“assalammualaikum…,
permisi….!!!” Teriakku dari halaman rumah Willy
“wa’alaikummussalam..,
eh Lea udah pulang. Sini masuk”
“iya
tante. Tante, Willy udah pulang belum ya?” tanyaku
“Belum
Lea, 2 hari lagi Willy baru pulang.”
2
harimenunggu Willy? Not bad.
Dua
hari berikutnya….
Aku
bersiap menyambut kedatangan Willy. Sekarang Willy gimana ya?
“pizza…!”
teriak seseorang dari depanrumah.
Aku
beranjak dari dudukku dan berjalan untuk membukakan pintu.
“pizza…!”
kata orang itu lagi
“Pizza?
Gak ada yang pesan pizza tu mas, salah alamat mungkin.”
“gak
kok, ini jalan arjuna no. 6 kan?” aku mengangguk. “Iya, berarti saya gak salah
alamat”
“Tunggu
sebentar ya mas…”
Aku
menuju ke dalam rumah, bertanya kepada mama, papa, kak Zuka, bahkan bi Inah,
tapi mereka semua gak ada yang pesan pizza. Aku kembali keluar.
“Maaf
mas keluarga saya gak ada yang pesan pizza, semuanya udah saya tanyain.”
“pizza………..!!!!!!!”
seseorang itu membuka topi dan kacamatanya.
“Willy…apaan
sih pakai pizza pizza segala.” Kataku dengan nada sedikit meninggi.
“Ini
semua buat nepatin janji gue, lo adal h orang pertama yang gue datangi kalau
gua pulang ke Indonesia. Gue nepatin janji kan.”
Aku
hanya tersenyum, ternyaya Willy masih ingat dengan janjinya. Padahal janji itu
sudah dua tahun lamanya.
“Nah
sekarang, gue mau nemuin papa sama mama gue dulu.” Kata Willy
“Ikut
ya…”
Sampai
di rumah Willy….
“loh,
Willy kok udah ketemu sama Lea.”
“Iya
mah, pah.Willy udah janji kalau Willy pulang orang pertama yang Willy temui itu
Lea.”
********
Satu
minggu sudah aku di Indonesia. Berlibur dengan Willy kesana, kesini, kesana,
kesini, kesana lagi kesini lagi haduh capek.
“Gimana
di Jepang?” Tanya Willy.
“Seneng,
Pokoknya beda banget sama di sini. Lo sendiri seneng gak di sana?”
“Ya
senenglah. “
Semua
udah dikunjungi, biar nanti gak nyesel kalau udah kembali ke luar negeri.
Saat
aku sedang ada di depan rumah Willy keluar mengendarai mobil.
“Will,
mau kemana?”
“Eh
Lea, maaf ya gue buru-buru nih”
Willy
mau kemana sih kok tumben gak ajak-ajak. Atau mungkin Willy udah mau pulang ke
Amerika, tapi kok cepet banget baliknya. Ya udah lah tungguin Willy disini aja
–di depan rumah-. Beberapa saat kemudianWilly pulang. Siapa tuh cewek?
Willy
menghampiriku di depan rumah, aku buru-buru masuk ke kamarku . aku tidak tau
siapa cewek itu tapi aku berfikir pasti cewek itu pacarnya Willy. Willy
mengejarku sampai ke kamarku.
“Lea,
lo kenapa?”
Aku
tak menjawab.
Tok….tok….tok…
pintu kamarku diketuk, aku membukanya. Willy. Aku menutupnya kembali.
Tok….tok….tok…
“Lea buka pintunya dong, lo tuh kenapa, kok tiba-tiba marah gak jelas gini
sih?”
Aku
membuka kembali pintu kamarku.
“Lo
kenapa tiba-tiba marah sama gue?” aku tak menjawabnya.
“Lea,
jawab dong.! Lo marah sama gue?” Aku menarik nafas panjang, mencoba mengatur
nafasku yang masih tersengal karena menangis.
“OK,
gue jelasin.gue gak marah sama lo, tapi gue kecewa sama lo. Gue tau cewek tadi
pacar lo kan? Dan kenapa gue kecewa? Itu
karena gue cemburu, gue tuh suka sama lo Will. Tapi lo tu gak pernah peka akan
hal itu. Satu lagi yang buat gua kecewa kenapa lo gak pernah cerita kalau di
Amerika sana lo tu udah punya pacar. Kenapa lo gak pernah cerita sama gue?”
Willy
diam. Aku menarik nafas panjang dari hidungku lalu berkata panjang lebar kepada
Willy.
“Udah
jelas kan. Ingat ya Will gue gak marah sama lo, gue seneng kok lo dapat pacar.
Gue gak mau seperti anak kecil yang sukanya ngerebutin milik orang lain. Dan
untuk kali ini gue gak akan nangis kalau lo pergi dari gue.”
“Kok
lo ngomong gitu sih, gue gak akan pergi dari lo. Gue akan selalu ada buat lo
sebagai sahabat lo. “
Aku
menutup pintu kamarku.
“Lea,
Lea gue belum selesai ngomong.”
Willy
bergegas dari depan kamarku.
Willy
“Jadi
selama ini tu lo suka sama gue, maafin gue Lea, tapi gue gak bisa cinta sama
lo. Gue Cuma anggap lo itu sahabat gue yang selalu ada buat gue dan selalu bisa
bantuin gue dalam kondisi apapun. Gue bangga sama lo Lea. Lo udah berani
ungkapin perasaan lo yang sebenarnya ke gue. Sekali lagi maafin gue Lea.”
********
Sejak
saat itu aku dan Willy jarang bertemu. Mungkin aku hanya sebatas melihatnya
saat sedang melintas di depan rumahku itu pun kami tidak bertegur sapa sama
sekali. Rasanya asing sekali dengan Willy yang sekarang.
Tibalah
saat aku harus kembali ke Jepang. Aku dan kak Zuka menunggu taksi yang akan
mengatar kami ke bandara.
“Will,
gue pamit ya. Gue mau pulang ke Jepang.”
“Kok
cepet banget pulangnya.?” Aku hanya tersenyum
“Kalau
gitu gue anta rke bandara ya.kan waktu lo berangkat dulu, gue gak nganterin
lo.”
“tapi
gue sama kak Zuka udah pesan taksi buat nganterin kita.”
“itu
gampang, batalin aja.”
Aku dan kak Zuka di antar Willy ke bandara.
Willy tidak langsung pulang, dia menunggu sampai pesawat yang aku dan kak Zuka
naiki terbang meninggalkan Indonesia. Aku tidak tau kapan aku akan kembali lagi
ke Indonesia. Aku juga tidak tau kapan aku akan bertemu dengan Willy lagi. Yang
terpentig, sudah tidak ada lagi rasa gundah karena aku suah mengatakannya
kepada willy. Meskipun aku dan Willy hanya akan menjadi ‘little bestfriend’ selamanya.
********

Tidak ada komentar:
Posting Komentar