Jumat, 27 April 2018

Filosofi Kopi: Menyatukan Ego



Seperti saat membaca tulisan-tulisan Dee Lestari, menonton fim yang diadaptasi dari karyanya juga membutuhkan usaha untuk memahaminya. Memerlukan banyak sudut pandang agar dapat memahaminya. Ini bukanlah resensi, hanya sebuah opini yang sepertinya subjektif. Hanya sebuah pemikiran dari seorang yang baru saja dibuat gemas dengan persahabatan Ben dan Jodi.

Ben. Keras, pendendam, egois tapi berjiwa bebas. Hidup berdampingan dengan kopi sedari kecil membuatnya terobsesi dengan kopi. Baginya, barista bukanlah sebuah profesi, melainkan sebuah meditasi. Ben, selalu gegabah dengan apa yang ia lakukan. Selalu mengambil langkah tanpa mempertimbangkan apa yang akan dihadapi di depan.

Jodi. Keturunan Tionghoa yang sangat sistematis dalam mengurus sebuah bisnis. Selalu mempertimbangkan apa yang akan ia lakukan. Selalu memikirkan risiko dan akibat dari apa yang ia perbuat.

Mereka berdua adalah sahabat yang selalu berdebat. Pemikiran mereka berbenturan dan tidak pernah sama. Ben dengan jiwa bebasnya, sedangkan Jodi dengan sistematisnya. Keduanya sama-sama egois dalam versinya. Sulit sekali menemukan titik terang di antara mereka berdua. Satu kali mereka berselisih pendapat, hanya mereka berdua yang tahu bagaimana cara untuk kembali menjadi sejawat.

Ben dan Jodi, seperti bumi dan langit. Air dan api. Kutub utara dan kutub selatan. Mungkin tidak akan pernah sama, tapi masih saling membutuhkan. Ben dan Jodi, mencoba menyatukan ego mereka masing-masing untuk mewujudkan sebuah mimpi. Ben dan Jodi adalah filosofi kopi.

Yogyakarta, 1 Februari 2018