Seperti saat membaca tulisan-tulisan
Dee Lestari, menonton fim yang diadaptasi dari karyanya juga membutuhkan usaha
untuk memahaminya. Memerlukan banyak sudut pandang agar dapat memahaminya. Ini
bukanlah resensi, hanya sebuah opini yang sepertinya subjektif. Hanya sebuah
pemikiran dari seorang yang baru saja dibuat gemas dengan persahabatan Ben dan
Jodi.
Ben. Keras, pendendam, egois tapi
berjiwa bebas. Hidup berdampingan dengan kopi sedari kecil membuatnya terobsesi
dengan kopi. Baginya, barista bukanlah sebuah profesi, melainkan sebuah
meditasi. Ben, selalu gegabah dengan apa yang ia lakukan. Selalu mengambil
langkah tanpa mempertimbangkan apa yang akan dihadapi di depan.
Jodi. Keturunan Tionghoa yang sangat
sistematis dalam mengurus sebuah bisnis. Selalu mempertimbangkan apa yang akan
ia lakukan. Selalu memikirkan risiko dan akibat dari apa yang ia perbuat.
Mereka berdua adalah sahabat yang
selalu berdebat. Pemikiran mereka berbenturan dan tidak pernah sama. Ben dengan
jiwa bebasnya, sedangkan Jodi dengan sistematisnya. Keduanya sama-sama egois
dalam versinya. Sulit sekali menemukan titik terang di antara mereka berdua.
Satu kali mereka berselisih pendapat, hanya mereka berdua yang tahu bagaimana
cara untuk kembali menjadi sejawat.
Ben dan Jodi, seperti bumi dan
langit. Air dan api. Kutub utara dan kutub selatan. Mungkin tidak akan pernah
sama, tapi masih saling membutuhkan. Ben dan Jodi, mencoba menyatukan ego
mereka masing-masing untuk mewujudkan sebuah mimpi. Ben dan Jodi adalah
filosofi kopi.
Yogyakarta, 1 Februari 2018