Senin, 07 Desember 2015

AB



Hello blogger, selamat malam. malam ini Bandung diguyur hujan ringan dan aku mencoba menyelesaikan paper sosiolinguistik.
Ini seharusnya di posting tiga bulan yang lalu. Tapi karena sok-sokan menyibukkan diri, akhirnya baru sempat di posting malam ini.
happy reading!

A= Antusias, B=Bodoh Amat
Rumus maca apa itu?
Itu bukan rumus, melainkan sebuah penyataan dari seorang teman tentang kelas A dan kelas B.

Hari itu, adalah hari selasa tanggal 8 September 2015 tepat saat mata kuliah production écrite. Saat itu, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku berada di kelompok 6 bersama Veria, Ismail dan Narita. Dosen memberi kami tugas untuk menemukan satu tema yang nantinya akan kami kembangkan menjadi sebuah tulisan.

Di tengah-tengah diskusi, muncul obrolan-obrolan yang melenceng dari apa yang seharusnya didiskusikan. Kami sempat mengobrol mengenai Sekaten Yogyakarta, Festival Kesenian Yogyakarta, Pasar Kangen di Taman Budaya Yogyakarta dan banyak lagi mengenai Yogyakarta. Selain itu kami juga mengobrol mengenai kelas. Aku penasaran mengapa di sini hanya ada dua kelas yaitu kelas A dan kelas B.

Setelah lama mengobrol, aku sedikit bercerita mengenai dua temanku yang berada di kelas A. Menurut mereka, kelas A adalah kelas dengan anak-anak yang serius. Tidak hanya mereka yang berpendapat demikian. Para dosenpun mengatakan hal yang serupa, bahkan ada salah satu dosen yang jika ia masuk ke kelas A, maka semua mahasiswanya akan serius sampai-sampai wajah mereka terlihat kotak, datar dan sangat serius.

Kedua temanku tadi penasaran bagaimana dengan kelas B. Tentu saja aku juga bercerita bahwa kelas B adalah kelas yang menyenangkan dengan teman-teman yang seru dan ramai. Menurut dosen, kelas B tidak seserius kelas A. mahasiswa di kelas B lebih bisa diajak bercanda dan juga menggila.

Setelah cerita itu, aku bertanya kepada Veria, Ismail dan Narita. Apaka semua kelas A selalu serius? Apakah kelas B selalu tidak seserius kelas A?
Jawaban dari Ismail cukup menggelikan. Menurutnya, semua kelas A selalu serius karena mereka A (Antusias) dan kelas B selalu kebalikannya karena mereka B (Bodoh amat). Menurutku itu jawaban yang simple namun sangat menggambarkan kenyataan.

Semua itu ada plus dan minusnya. Semua mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada yang sempurna. Kelas A dan Kelas B punya keunikan masing-masing. Semuanya harus bersaing secara sehat dalam hal prestasi.

Satu pesan dari apa yang pernah kubaca, “Be a great person, but not a serious one”. Jadilah orang yang hebat, tapi bukan si serius. Bukan bermaksud mengajak untuk tidak serius dalam melakukan pekerjaan. Si serius di sini adalah orang yang tidak bisa bercanda dan tidak bisa diajak seru. Jangan salah mengartikan.
Sekali lagi “Be a great person, but not a serious one”. Jadilah orang hebat yang bisa bercanda dan bisa membuat situasi menjadi menyenangkan.

Au revoir.

Minggu, 06 Desember 2015

FYI



Hello everyone, hari ini saya ingin berbagi dengan kalian semua mengenai apa yang saya dapatkan saat kuliah media pembelajaran.

Hari itu, saya berada di kelas pada mata kulaih media pembelajaran. Materi yang disampaikan adalah media pembelajaran untuk ketrampilan membaca. Seperti yang sudah diketahui, dalam berbahasa terdapat empat ketrampilan yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Keempat ketrampilan tersebut selalu ada dalam pembelajaran bahasa apapun. Namun, tahukah kalian, dengan seiring berkembangnya zaman dan teknologi, keempat ketrampilan saja tidak cukup. Hal ini disampaikan oleh dosen yang sedang mengajar pada hari itu. Menurut beliau, terdapat satu lagi ketrampilan yang harus dikuasai oleh pembelajar khususnya pembelajar bahasa. Ketrampilan itu disebut dengan ketrampilan mengakses berbagai informasi.

Maksud dari ketrampilan mengakses berbagai informasi adalah kemampuan dalam mencari dan memilih informasi. Walaupun saat ini tersedia internet untuk mengakses berbagai macam informasi dengan mudah, namun tidak semua informasi dapat digunakan. Kita tidak dapat seenaknya menggunakan apa yang telah kita dapat dari suatu  informasi.

Misalnya, saat kita ingin membuat makalah, kita harus mencari referensi yang relevan dengan materi kita. Selain mencari referensi melalui buku-buku, kita bisa mencari referensi dari internet. Yang perlu diperhatikan adalah, kita harus mencari informasi yang tepat dan cocok dengan materi kita. Kita harus membaca referensi yang didapat dengan seksama, tidak boleh hanya asal mencari kemudian copy-paste dan memasukkannya ke dalam makalah tanpa disaring terlebih dahulu.

Singkatnya, tetap selektif saat memilih referensi ya guys, terutama yang berasal dari internet. Jangan seenaknya copy-paste begitu saja. Dengan adanya internet sebagai penyedia informasi, kita bukan diajarkan untuk menjadi generasi copy-paste, tetapi kita diajarkan untuk lebih teliti, kritis dan selektif.

Keep your spirit and see you!